Keprihatinan Warga dengan Kondisi Situ Cipicung

Situ Cipicung dibangun sekittar tahun 1930 M, oleh entitas kelompok masyarakat yang dimotori 16 tokoh masyarakat Desa Majasari , dua diantaranya adalah Bapak Asad dan Bapak Budi Aripan. Kepemilikan lahan lahan waktu itu masih dalam peraturan peralihan UU pertanahan Belanda ke Indonesia, (domain vacklaring) yang secara umum tanah yang tidak terbukti kepemilikannya dikuasai oleh Negara, sehingga secara teknis penguasaandan kepemilikan atas tanah ditandai dengan pengarapan tanah untuk pertanian dan perkebunan.

Gagasan visioner untuk membuat situ tersebut tentu saja dipijakan pada kerangka berpikir perubahan kehidupan yang lebih baik di masa depan, khususnya bagi petani yang belum memiliki saluran air teknis untuk membuat kebun campuran menjadi pesawahan. Upaya kerja keras kelompok 16 belas ini membuahkan hasil yang signifikan yaitu adanya situ yang luasnya sekitar 8 ha, yang pasokan airnya bersumber dari DAS Cipunagara, Sub DAS Cileuley, dengan ratusan anak sungai (revarian) dari sabuk pengaman gunung Tangkuban perahu dan Bukit Unggul di sebelah selatan Kabupaten Subang.

Sejak adanya situ Cipicung, manfaatnya dapat dirasakan oleh sekitar 135 000 jiwa, khusunya para petani padi, petani ikan, palawija, dan perkebunan. Sedangkan ecara administratif wilayah yang mendapat manaaf dari adanya situ ini adalah meliputi : Desa Belendung, Desa Majasari, Desa Cibogo (kec., Cibogo), dan Desa Wanasari, Manyingsal, Tanjung Jaya, Parigi Mulya.

Dalam kondisi yang normal Situ Cipicung dapat menampung air lebih dari 3000 kubik, sehingga tidak mengherankan bisa mengairi sekitar 5000 ha sawah, 50 ha kolam ikan, 30 ha palawija, 1000 ha perkebunan tebu dan kebun campuran. Tentu saja dalam kondisi baik situ Cipicung memberikan manfaat lebih dari 25 ribu ton padi 30 ton ikan air tawar dalam setiap tahunnya, serta manfaat tidak langsung dari adanya situ Cipicung.

Perkembangan kondisi situ Cipicung, terus mengalami perubahan penurunan secara alami dan kuatnya berbagai kepentingan para pihak. Kerusakan Situ Cipicung tersebut sangat memprihatinkan, namun secara khusus inti masalahnya terindikasi 80% Sidementasi lumpur dan Sampah , yang disebabkan oleh arus air yang membawa tanah di sepanjang sepadan sungai dan banyaknya galain C di wilayah hulu yang berkontribusi terhadap kiriman lumpur, serta kebiasaan prilaku masarakat yang membuang sampah ke sungai.

tetapi Situ Cipicung sangat pada saat ini sangat parah, dan memprihatinkan disamping kondisi situ yang sudah dangkal akibat lumpur disamping itu juga pabrik taekwang yang mengalirkan air nya ke situ tersebut. Kepala Desa Majasari tati Hermawati berharap kepada pemerintah untuk merespon aspirasi warga untuk menormalisasi Situ tersebut. (Red.Majasari)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan