TAHU TEMPE MENJADI SENTRA PRODUK UNGGULAN DESA MAJASARI

MAJASARI SIDEKA. Sajian olah kedelai berupa Tahu dan tempe memang telah dikenal sebagai kuliner khas Indonesia, terutama tempe. Kemasannya di buat beragam, mulai dari plastik sampai kemasan kaleng. Kemasan kaleng ini berfungsi untuk melindungi tekstur dan bentuknya agar tetap utuh ketika dikirim ke konsumen. Hal ini di maksudkan agar tempe tetap bisa dinikmati seperti bentuk tempe pada umumnya yang di jual di Indonesia.

Sebagai kudapan favorit orang Indonesia, sentra pembuatan tempe hampir bisa ditemukan di setiap pelosok daerah. Tak terkecuali di desa majasari ini.  Salah satu lokasi pembuatan tempe terbesar di majasari ini berada di Kawasan Kp. Rancaseel. Lokasinya berada di Dusun I Kampung Rancaseel Rw.02/06. Lebih dari 10 produsen tempe mentah yang berada di majasari, namun hanya kurang lebih 5 pengrajin yang aktif dalam binaan Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Subang. Keberadaan produsen tempe menyebar di beberapa gang di wilayah Rancaseel. Majasari akan dijadikan sentra  kampung tempe.

Semua produksi tempe di kampung ini adalah pesanan para distributor tempe yang ada di pasar-pasar. Sehingga kita tidak bisa membeli produk tempe secara ecer disini. Para produsen tempe disini sudah memilik pelanggan tetap untuk menjaul produk tempenya. Setiap harinya para produsen membuat sekitar 3 kuintal tempe mentah.

Dulunya para produsen tempe di kawasan Rancaseel mencuci kedelainya di sungai. Namun seiring dengan berjalannya waktu, sungai di daerah Rancaseel. ini airnya sudah tidak jernih lagi. Saat ini sungai tersebut sudah tercemar dengan limbah rumah tangga. Dengan adanya pendampingan yang dilakukan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Subang, para produsen tempe kini telah beralih menggunakan air bersih. Mereka mendapat pembinaan mulai dari proses pembuatan tempe yang baik dan sehat, juga mendapat bantuan peralatan pendukung.

Proses dari pembuatan kedelai ini dicuci terlebih dahulu sampai menjadi tempe, yaitu selama empat hari dan empat malam. Mulanya, kedelai dicuci hingga bersih dan terpisah dari biji-bijian selain kedelai, kemudian direbus untuk menghilangkan kotoran dan bakteri. Lalu, kedelai yang telah bersih direndam semalaman. Setelah kulit kedelai di rasa cukup lunak, baru kedelai kemudian dikupas dan dicuci kembali hingga bersih, lalu diberikan ragi tempe dan didiamkan selama 2 malam. Proses cetaknya sendiri cukup cepat. Tempe yang sudah jadi ini ada yang dibungkus dengan daun pisang dan dibungkus dengan plastik. Setelah terbungkus rapi akhirnya dibawa oleh penjual tempe yang kemudian menjualnya ke konsumen.

Dulu, sisa produksi tempe yang tidak terjual/terambil oleh penjual tempe akhirnya terbuang begitu saja. Untuk mengatasi hal tersebut para produsen mulai berpikir untuk mengolah tempe yang tidak terjual tersebut, salah satunya adalah produk keripik tempe yang saat ini sudah menyebar di beberapa pusat oleh-oleh di Kabupaten Subang Setelah dibuat camilan keripik tempe dan olahan lainnya, sisa-sisa tempe tersebut malah bisa menghasilkan uang.

Para produsen tempe di kampung Tenggilis ini masih terus berinovasi untuk melestarikan dan memajukan kampungnya supaya menjadi kampung tempe terbaik. Produktivitas sajian tempe di Kampung Tempe ini masih akan tetap berlanjut ke lintas generasi berikutnya. kampung Tempe Kabupaten Subang ini memang menjadi contoh unggulan inovasi daerah bagi kampung-kampung lainnya di Indonesia. Diharapkan produk olahan tempe seperti keripik tempe bisa menjadi ikon oleh-oleh khas Kabupaten Subang. Karena selama ini keripik tempe yang terkenal masih dari Sumedang (Endang sideka)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan